Pancasila di Tikar Pandan

Inilah bukti bahwa Wuat Wai mampu menyelamatkan. Namun, sampai kapan?

Wuat Wai hanya berdaya untuk mengantar. Ia adalah ongkos pemberangkatan, manifestasi dari “Lalong bakok duhu lako”—berangkat dengan bakul kosong. Setelah bulan ketiga berlalu, siapa yang akan menanggung biaya indekos berikutnya? Siapa yang akan membayar UKT semester kedua?

Di sinilah negara harus hadir. Ketika konstitusi adat telah berdiri di titik awal, konstitusi negara bertugas melanjutkannya.

Eugen Ehrlich mengingatkan bahwa hukum yang hidup (living law) bukanlah yang tertulis di dalam buku, melainkan yang menguasai kehidupan masyarakat. Wuat Wai adalah hukum yang hidup itu. Van Vollenhoven pun mencatat bahwa hukum tidak dibuat, melainkan ditemukan tumbuh di kampung-kampung—sebuah pemikiran yang berakar dari von Savigny. Koentjaraningrat menyebut kebudayaan terdiri atas gagasan, tindakan, dan karya. Puncaknya, Satjipto Rahardjo menegaskan: hukum adalah untuk manusia.

Hal yang paling utama, roh Wuat Wai telah bersemayam jauh sebelum Indonesia merdeka. Tujuan nasional dalam Pembukaan UUD 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Itu dirumuskan pada 1945, sedangkan Wuat Wai khas Manggarai telah ada jauh sebelumnya. Artinya, Wuat Wai merupakan bagian dari roh asli Pancasila dan tujuan nasional itu sendiri. Jika Sila Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, menuntut kesetaraan tanpa pandang bulu antara laki-laki dan perempuan, maka Wuat Wai telah melaksanakannya secara nyata. Jika Sila Ketiga, Persatuan Indonesia, diartikan sebagai gotong royong seluruh warga kampung demi menopang seorang anak, maka Wuat Wai adalah wujud murni persatuan tersebut. Itulah Wuat Wai—Pancasila yang hidup.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel