Metafisika Gempa: Ketika Bumi Menjalankan Liturgi Keseimbangannya Sendiri

oplus_131072

Oleh Adrianus Marselus Nggoro★

Gempa Susulan Bukan Kutukan, Melainkan Tanda Bumi Sedang Menata Ulang Dirinya

Hukum Omori berkata: frekuensi gempa susulan pasti meluruh menurut waktu (1/t) dan pasti menuju diam. Hukum Alam berkata: setiap yang patah pasti mencari keseimbangannya kembali. Dua bahasa, satu makna: alam semesta tidak pernah lupa cara untuk pulang. (Fusakichi Omori, 1894; Utsu, 1961)

Ada satu pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh seismograf, tetapi selalu ditanyakan oleh hati yang baru saja kehilangan rumah: mengapa setelah dentuman besar M7,7 (Gempa Nagekeo, 15 Agustus 2025) itu, bumi tidak langsung diam?

Saat tulisan ini disusun, BMKG mencatat lebih dari 1.200 kali gempa susulan. Angka itu membuat dada sesak. Namun, di balik angka itu ada sebuah kejujuran ilmiah yang justru menyejukkan.

BMKG dengan sangat jujur dan berjiwa kesatria menyatakan: kami tidak punya kemampuan memprediksi kapan gempa akan terjadi sebelum peristiwa itu terjadi. Yang bisa kami lakukan hanyalah memprediksi setelah gempa terjadi—seberapa besar dan seberapa sering susulannya akan meluruh.

Pernyataan itu bukan kelemahan. Itu adalah tanda penghormatan tinggi pada hukum alam. Itu adalah pengakuan paling tulus bahwa bukan BMKG yang mengatur hukum alam, melainkan BMKG yang menghormati hukum alam.

Hukum alam yang mengatur rotasi bumi 24 jam itu jauh lebih tua, jauh lebih setia, dan jauh lebih pasti daripada semua alat kita.

Jika kita percaya sepenuhnya pada kesetiaan perputaran itu, kita harus percaya juga pada kesetiaan yang lain: bahwa patahan yang robek karena gesekan lempeng, secara alami akan ditata kembali oleh bumi itu sendiri.

Hukum Alam Itu Pasti Kembali

Maka, gempa besar bukanlah pemberontakan alam. Ia adalah kesetiaan alam pada hukumnya sendiri. Profesor Fusakichi Omori dari Universitas Imperial Tokyo pada tahun 1894 menemukan kalkulus kepulangannya, yang kemudian disempurnakan oleh Tokuji Utsu pada tahun 1961 menjadi formula Omori-Utsu: n(t) = K / (c + t)^p. Frekuensi gempa susulan pasti meluruh. Pasti menuju diam.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel