Inilah yang tidak bisa dilakukan alat: alat hanya bisa memprediksi setelah gempa. Namun, doa Denge Lite mengajarkan untuk percaya bahkan sebelum dan sesudah gempa, karena yang setia bukanlah alat, melainkan Lite itu sendiri.
Jari Agu Dedek (terbit di timur, terbenam di barat) adalah pengakuan atas rotasi—kesetiaan yang melahirkan Hukum Omori.
Parn Awo, Kolepn Sale (sumber di hulu, air mengalir ke hilir) adalah pengakuan atas gravitasi.
Tanan Wa, Awangn Eta (bumi di bawah, awan di atas) adalah pengakuan atas tatanan.
Untuk Kita yang Masih Gemetar
Pertama, beri nama pada getaran itu dengan kepastian. Jangan berkata, “Gempa lagi.” Katakan, “Ini adalah Parn Awo, Kolepn Sale. Seperti air mencari hilirnya, bumi sedang mencari keseimbangannya. Menurut BMKG dan Hukum Omori, gempa ini pasti lebih kecil daripada kemarin.”
Kedua, ikutlah dalam iramanya. Saat getaran M3 datang, tarik napas 4 detik, tahan 4 detik, buang 4 detik. Sebut dalam hati: “Denge Lite, Engkau Tuhan, aku mendengar dan Engkau mendengarku.”
Ketiga, pulihlah bersama. Satu keluarga yang makan bersama di luar tenda jauh lebih cepat pulih daripada yang mengurung diri.
Keempat, ajarkan harapan pada anak. Katakan, “Seperti matahari yang setia terbit di timur—Jari Agu Dedek—bumi juga setia akan kembali tenang, karena Lite—Tuhan—mendengar.”
Gempa susulan adalah liturgi pemulihan. BMKG telah jujur: mereka tidak mengatur hukum alam. Mereka hanya menjadi saksi yang setia bahwa hukum alam itu bekerja.
Maka, jangan ragu. Jika matahari setia terbit di timur dan terbenam di barat, serta air setia mengalir dari hulu ke hilir, yakinlah bahwa secara alami pula bumi sedang menata kembali patahannya—karena ada hukum alam yang setia dan ada Lite yang mendengar.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











