Jeritan Tenaga Kesehatan di Garis Depan: Berjuang di Tengah Tuduhan
Sektor pelayanan kesehatan menjadi salah satu perhatian khusus Ombudsman. Robert memberikan apresiasi tinggi kepada para tenaga kesehatan (nakes) yang bertugas di posko darurat, seperti di Reo, yang tetap berjuang meski mereka sendiri turut menjadi korban terdampak bencana gempa.
Namun, di balik dedikasi tersebut, para nakes menyimpan kesedihan mendalam akibat narasi di media sosial yang membandingkan angka kematian saat bencana dengan pascabencana, seolah menyalahkan sistem pelayanan publik.
“Para nakes ini sampai menangis. Seakan-akan pelayanan kesehatan gagal, padahal mereka bekerja di garis depan dalam kondisi serba terbatas. Mereka ini juga korban bencana yang terpapar dampaknya,” tutur Robert.
Para nakes tidak menuntut insentif tambahan, melainkan fasilitas kerja dan tempat tinggal yang lebih manusiawi. Respon cepat ditunjukkan BNPB dengan menambah tenda pelayanan berukuran 6×12 meter untuk Puskesmas darurat. Namun, penataan tempat tidur nakes dan pemberian alas semen pada tenda darurat masih sangat dibutuhkan agar nakes tidak perlu tidur di atas tanah langsung.
Sektor Pendidikan Terancam Learning Loss dan Krisis Air Bersih
Di sektor pendidikan, fasilitas belajar-mengajar darurat dinilai membutuhkan penanganan sangat serius. Di sebagian besar titik lokasi, enam rombongan belajar (rombel) tingkat Sekolah Dasar (SD) hanya ditampung dalam satu atau dua tenda yang disekat-sekat, sehingga proses belajar dilakukan bergiliran (shift).
“Bencana tidak boleh menghentikan investasi masa depan anak-anak. Jangan sampai terjadi learning loss yang tinggi karena anak-anak hanya sekolah satu atau dua hari dalam seminggu dengan fasilitas seadanya. Tenda-tenda pendidikan yang memadai harus segera dipasok,” tegasnya.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel









