Potret Kerusakan Parah dan Sempitnya Tenda Pengungsian di Paralando
Dari penelusuran di sejumlah titik terdampak gempa M7,7, Ombudsman mencatat wilayah Kecamatan Reo Barat, khususnya Desa Paralando di pantai utara Manggarai, menjadi salah satu lokasi paling memprihatinkan. Di wilayah ini, tingkat kerusakan pemukiman warga sangat masif hingga sulit menemukan bangunan yang masih utuh.
Di Desa Paralando, terdapat sekitar 300 kepala keluarga (KK) yang terpusat di satu lapangan utama dan beberapa titik darurat lainnya. Mereka terpaksa bertahan di dalam tenda-tenda darurat yang dibangun secara mandiri, bantuan relawan, maupun dari BNPB.
Kondisi keprihatinan terlihat jelas dari kapasitas hunian. Satu tenda berukuran 4 \times 5 meter rata-rata dihuni oleh dua hingga tiga kepala keluarga sekaligus, dan kondisi ini telah berlangsung lebih dari satu bulan.
“Kalau berada di dalam tenda yang sempit dengan dua atau tiga keluarga selama lebih dari 30 hari, bukan saja isu kesehatan yang mengancam, tetapi pergeseran dan gesekan sosial mulai muncul. Ruang gerak sangat terbatas dan interaksi terlalu intensif di ruang sempit. Ini tidak boleh dibiarkan terlalu lama,” kata Robert menegaskan.
Huntara Jadi Top Priority dan Kebutuhan Tenda Layak
Menanggapi kondisi pengungsian tersebut, Ombudsman menyebutkan bahwa kebutuhan akan Hunian Sementara (Huntara) menjadi permintaan nomor satu warga saat ini. Proses administrasi berupa penandatanganan Surat Keputusan (SK) oleh Pemerintah Kabupaten Manggarai dan Manggarai Barat diharapkan segera rampung agar dapat segera direviu oleh Inspektur Utama (Irtama) BNPB.
Sambil menunggu realisasi Huntara yang membutuhkan waktu, Ombudsman mendesak penambahan dan distribusi tenda standar dari BNPB untuk menggantikan tenda terpal swadaya masyarakat yang kurang layak.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel









