Empati menjadi hal yang sangat penting dalam situasi seperti ini. Memahami bukan berarti membenarkan apa yang terjadi, melainkan mencoba melihat pengalaman korban melalui perspektif yang lebih manusiawi dan ilmiah.
Kasus di Bandung tersebut, menurut Flora Grace juga menjadi pengingat bahwa kekerasan dapat berlangsung sangat dekat dengan kehidupan kita tanpa disadari. Oleh karena itu, masyarakat perlu lebih peka terhadap tanda-tanda hubungan yang tidak sehat, seperti kontrol berlebihan, pembatasan komunikasi dengan keluarga, ancaman, penghinaan yang terus-menerus, atau perubahan perilaku seseorang yang tiba-tiba menjadi tertutup dan menjauh dari lingkungan sosialnya.
Pada akhirnya, penyelamatan korban hanyalah awal dari proses yang panjang. Pemulihan psikologis membutuhkan waktu, dukungan sosial, layanan kesehatan mental yang memadai, serta sistem hukum yang mampu memberikan rasa aman dan keadilan.
Sebab, luka akibat kekerasan tidak selalu terlihat pada tubuh. Sering kali, luka yang paling dalam justru tersimpan dalam ingatan, emosi, dan rasa aman yang direnggut perlahan selama bertahun-tahun.
Menutup penjelasannya, Flora Grace mengingatkan dalam konteks ini, tugas kita sebagai masyarakat bukan menghakimi mengapa korban bertahan, melainkan memastikan bahwa ketika korban akhirnya berhasil keluar, ia tidak harus berjuang sendirian untuk pulih.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











