Mengapa Korban Sulit Melarikan Diri? Ini Sisi Psikologi yang Sering Terabaikan

Korban Sulit Melarikan Diri
YTR, Wanita korban penyekapan oleh kekasihnya berinisial TH selama 3 tahun di kamar kosnya wilayah Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat (Ist)

Dalam kondisi tertentu, kata Flora Grace, korban bukan tidak ingin pergi, melainkan kehilangan keyakinan bahwa dirinya mampu pergi.

Di sinilah pentingnya memahami bahwa kekerasan bukan semata-mata tindakan fisik. Banyak pelaku menggunakan kontrol psikologis sebagai instrumen utama untuk mempertahankan kekuasaan atas korban.

“Ancaman, intimidasi, penghinaan, isolasi dari keluarga, pembatasan aktivitas, hingga manipulasi emosional merupakan bentuk-bentuk kontrol yang perlahan mengikis kebebasan dan otonomi korban.” Ujar Flora yang ditemui secara daring, Senin, 22 Juni 2026.

Ia menjelaskan, Korban yang terus-menerus hidup dalam ketakutan akhirnya dapat mengalami apa yang dalam psikologi disebut sebagai learned helplessness atau ketidakberdayaan yang dipelajari.

Artinya, bagaimana seseorang yang berulang kali mengalami situasi yang menyakitkan dan tidak dapat dikendalikan akan mulai percaya bahwa tidak ada lagi yang dapat dilakukan untuk mengubah keadaan.

Ketika kondisi tersebut terjadi, korban tidak lagi melihat jalan keluar sebagaimana orang lain melihatnya.

“Setiap kemungkinan untuk melawan terasa sia-sia. Setiap upaya untuk mencari pertolongan dibayangi ketakutan akan konsekuensi yang lebih buruk. Dan, pada titik tertentu, bertahan justru dipersepsikan sebagai pilihan yang paling aman.” Ujar Wakil Dekan Fakultas Psikologi UST Yogyakarta ini.

Demikian Flora Grace bahwa kondisi ini diperparah apabila korban kehilangan akses terhadap dukungan sosial. Pelaku kekerasan sering kali berusaha memisahkan korban dari keluarga, sahabat, atau siapa pun yang berpotensi memberikan bantuan. Isolasi sosial membuat korban semakin bergantung pada pelaku, baik secara emosional maupun praktis.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel