Mengapa Korban Sulit Melarikan Diri? Ini Sisi Psikologi yang Sering Terabaikan

Korban Sulit Melarikan Diri
YTR, Wanita korban penyekapan oleh kekasihnya berinisial TH selama 3 tahun di kamar kosnya wilayah Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat (Ist)

Akibatnya, lanjut Flora Grace, hubungan yang terbentuk bukan lagi hubungan yang sehat, melainkan hubungan yang didasarkan pada ketakutan dan ketergantungan.

Sementara, dari perspektif trauma, pengalaman kekerasan berkepanjangan juga dapat menimbulkan dampak yang dikenal sebagai trauma kompleks (complex trauma). Berbeda dengan trauma akibat satu peristiwa, trauma kompleks muncul ketika seseorang mengalami ancaman, kekerasan, atau perlakuan yang merendahkan secara terus-menerus dalam waktu yang lama.

Dampaknya, kata Flora Grace tidak hanya berupa kecemasan atau ketakutan. Korban dapat mengalami gangguan dalam mengelola emosi, kehilangan kepercayaan terhadap orang lain, merasa tidak berharga, bahkan kesulitan mengenali identitas dirinya sendiri. Tidak sedikit yang kemudian mengalami depresi, gangguan tidur, mimpi buruk, hingga berbagai keluhan fisik yang berakar pada tekanan psikologis.

Karena itu, ketika sebuah kasus kekerasan terungkap, fokus kita seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan mengapa korban bertahan. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana kondisi psikologis yang dialami korban selama bertahun-tahun dan dukungan seperti apa yang dibutuhkan agar ia dapat pulih.

Sayangnya, keluh Flora Grace, masyarakat masih sering terjebak dalam kecenderungan menyalahkan korban. Komentar seperti “mengapa tidak kabur?”, “mengapa tidak melapor?”, atau “mengapa baru sekarang?” kerap muncul dalam ruang publik. Padahal pertanyaan-pertanyaan tersebut berisiko menambah beban psikologis korban yang sesungguhnya sedang berjuang untuk bertahan hidup.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel