Simaklah….
Di ziarah hidup ini, terlalu mudahlah bagi kita untuk temukan sesama yang rimbun dengan segala kiat dan kata-kata mutiara penuh simpatik!
Bagaimana pun…
‘Bila kita kaji lebih jauh’ kita sebenarnya hanya rindukan teman seperjalanan. Kita impikan kehadirannya penuh harapan. Membawa damai dan rasa sejuk. Hingga saatnya kita tiba pada sebuah ‘a ha moment’ berseri penuh ceriah.
Si bocil dan si balita, sebenarnya, tak inginkan ‘banyak barang mati’ sebagai ‘sahabat’ di genggaman tangan. Atau tertumpuk di sekelilignya. Sebab yang dirindukannya hanyalah lebih banyak ‘tampaknya wajah senyum sang ibu.’ Atau? Mereka rindukan lebih banyaknya kehadiran sang ayah yang siap menemani.
Di alam nyata yang tertangkap pancaindra kita sebenarnya tidak menuntut jawaban pasti untuk setiap persoalan. Kita hanya impikan sebuah hati yang memahami. Hati yang tak mesti tahu ke mana kaki kita melangkah. Namun tetap penuh harapan dalam doa, kasih dan pengorbanan.
Tragedi di Golgota menyimpan duka nestapa tak terkirakan. ‘Perjalanan ke Emaus terasa sangat menyedihkan.’ Kedua murid itu memang tak butuh jawaban pasti tentang apa sebenarnya di balik semua yang telah terjadi. Berdua hanya rindukan sosok yang bisa ‘ada bersama dan menemani.’ Sebagai tempat sandaran rasa hati yang terbengkalai. Untuk kemudian ditenun kembali dalam kepastian dan sukacita.
Di sekitar dan di sekeliling kita, yang ada hanyalah pikiran. Hanya ada kata-kata, bahkan kegaduhan yang berisik. Iya, hanya ada tafsiran serta serba-serbi sisa-sisa suara yang menari-nari membentur kuping. Namun, ‘bila kita kaji lebih jauh, semuanya hanyalah Tuhan yang tahu pasti…’
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel




