Bagaimana situasi terkini di Yuguru dan kampung-kampung lain di Mebarok?
Hampir semua warga telah melarikan diri ke hutan, kata Nus Gwijangge. Dia berkata, ada pula sebagian warga yang mengungsi hingga ke Wamena dan Lanny Jaya.
“Saya baru-baru ini bertemu Panglima Kogabwilhan III di Kenyam (ibu kota Nduga). Saya memohon agar tentara jangan mengejar masyarakat,” kata Nus.
Nus berkata, warga di kampungnya seharusnya tidak terusik jika tentara hanya menyasar Egianus Kogoya dan milisi TPNPB.
“Silakan kejar mereka (TPNPB), tapi mereka tidak ada di Mebarok atau Yuguru,” ujar Nus.
TNI telah membantah berbagai tudingan tentang dampak negatif keberadaan pasukan mereka di Distrik Mebarok—termasuk perusakan rumah warga dan sekolah.
Mayjen Kristomei membuat klaim, TNI mengerahkan pasukan ke distrik itu justru untuk “melindungi masyarakat”.
Hingga saat ini, penerbangan perintis menuju lapangan terbang Yuguru urung dibuka kembali. Sejak pembebasan pilot Philip Mehrtens, penerbangan itu menjadi salah satu yang paling diharapkan warga, kata Nus Gwijangge.
Nus berkata, kampung-kampung sekarang tidak hanya sepi—pembangunan infrastruktur seperti sekolah yang dijanjikan pemerintah juga belum terlaksana.
Satu hari setelah ditemukan, 25 Maret silam, kerabat dan sejumlah warga membakar jenazah Abral di depan honainya. Prosesi itu, kata YW, merupakan tradisi orang-orang asli Papua di Mebarok.
Empat hari setelahnya, ayah Abral yang telah bertahun-tahun sakit juga mengembuskan nafas terakhir. Dia mengalami serangan jantung, kata Theo, karena melihat Abral tewas dalam kondisi yang tidak manusiawi.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel













