Mayoritas penduduk Mebarok biasanya harus berjalan kaki setidaknya empat hari jika ingin berpergian ke Kota Wamena di Kabupaten Jayawijaya atau Kuyawage di Kabupaten Lanny Jaya.
Namun Abral tidak pernah berpergian keluar tanah kelahirannya, klaim Nus. Abral juga tidak pernah bersekolah. Selama hidupnya, dia berkomunikasi dalam bahasa ibunya. Abral tak bisa berbahasa Indonesia.
“Handphone juga dia belum pernah pegang,” ujar Nus seraya mengatakan Abral menghabiskan waktunya untuk bertani di kebun—satu-satunya cara keluarganya mendapatkan sumber makanan.
Saat tak mengurus kebun, kata Nus, Abral merawat ayahnya yang telah sakit-sakitan.
Informasi serupa juga disampaikan Yordan, pemuda dari Kampung Yuguru yang berusia sama dengan Abral. Yordan mengenal Abral sejak masih kanak-kanak.
“Saya dan anak-anak Yuguru pergi ke kota untuk sekolah. Abral tetap tinggal di kampung,” ujarnya.

Kogeya, warga Yuguru, pernah melihat Abral di landasan pesawat, Februari silam. Ketika itu pasukan TNI meminta warga Distrik Mebarok berkumpul untuk membersihkan landasan pesawat.
Merujuk keterangan warga yang dikumpulkannya, Theo Hasegem bilang setiap laki-laki yang ikut membersihkan landasan itu diperiksa oleh tentara.
Tentara, kata Theo, menanyakan identitas dan juga mencecar warga untuk mendapat informasi keberadaan milisi Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB).
“Celana, baju, jaket, noken semua diperiksa,” ujarnya.
Sosok Abral yang dikenal oleh warga tidak sesuai dengan tuduhan yang disampaikan militer Indonesia.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel













