Laki-Laki asli Papua di Nduga tewas dengan Tubuh Terpotong – Bagaimana kasusnya?

Jenazah Abral Wandikbo, usai ditemukan warga akhir Maret lalu. (Ist)
1003583491
1003583496
1003583478
1003583142
1003583317
1003583312
1003583141
Masyarakat Distrik Mebarok berkumpul di lapangan terbang di Kampung Yuguru, awal Februari lalu. Pada peristiwa itu, tentara disebut membagikan bendera Merah Putih kepada warga.

Kerabat menemukan jasad Abral dalam posisi telungkup di atas tanah, dengan tangan yang diikat tali segel plastik ke belakang pinggang.

Keterangan itu diungkapkan Theo Hasegem, Ketua Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua. Theo bersama sejumlah lembaga sipil, antara lain Kontras dan Amnesty Internasional, mengadukan kematian Abral ke Komnas HAM, Jumat (13/06).

Theo berkata, Abral tewas dalam kondisi yang tidak manusiawi. Kedua telinga Abral dipotong, begitu juga hidung dan mulutnya. Dahi Abral terkelupas dan kakinya tampak melepuh.

Kondisi jasad Abral itu dipotret dalam sejumlah foto yang telah dilihat BBC News Indonesia.

“Kami sedih dan sangat sakit hati,” kata YW, kerabat Abral saat ditemui di Jakarta.

YW, yang meminta diidentifikasi dengan inisial, menuntut agar para pelaku dibawa ke pengadilan.

TNI secara resmi membantah tuduhan bahwa prajurit mereka membunuh Abral.

Kepala Pusat Penerangan Markas Besar TNI, Mayor Jenderal Kristomei Sianturi, menyebut Abral tewas karena “melompat ke arah jurang”.

“Tuduhan pelanggaran HAM seperti ini selalu dilakukan OPM [Organisasi Papua Merdeka—istilah lain yang merujuk ke TPNPB],” ujar Kristomei.

Siapa Abral Wandikbo? Mengapa dia dicari tentara?

Kepala Distrik Mebarok, Nus Gwijangge, menyebut Abral sebagai saudara. “Dia itu adik saya jadi saya tahu apa yang saya sampaikan ini,” kata Nus.

Sepanjang umurnya, kata Nus, Abral belum pernah meninggalkan Mebarok. Sebagai konteks, distrik ini berada di Nduga, salah satu kabupaten dengan kemiskinan paling ekstrem di Indonesia.

Potret warga yang tengah membersihkan lapangan terbang di Kampung Yuguru, pusat Distrik Mebarok.

Sebelum penyanderaan pilot Philip Mehrtens, terdapat pesawat perintis yang terbang ke Distrik Mebarok. Pesawat hanya bisa mendarat di landasan yang berada di Kampung Yuguru.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel