Kita Bukan Lagi Orang Asing dan Pendatang

Kita memang lagi ramai dengan desingan peluru-peluru kata bersuara. Tak peduli apakah kata-kata itu sungguh dikandung oleh rahim kebenaran, dan lalu lahirkan kepastian dan kesejukan, atau sebaliknya hanya ‘sekedar bersuara untuk merakit kebisingan?’

Kepatuhan pada tanda-tanda zaman?

Maka di sini, tentu tak sekedar ditangkap dan ‘diisi dengan rasa.’ Kemampuan membaca tanda-tanda zaman adalah kemutlakan. Sebab itu, ratifikasi dan optimalisasi isi dan cara berpikir integral dan menyeluruh (holistik), mesti tercerahkan dalam ‘keterbukaan ratio (akal budi) dan hati nurani yang sehat.’

Jika memang tak sanggup membedah tanda-tanda zaman dengan indah, ini tentu jadi alarm maut penuh risiko. Kita bakal tetap terperangkap dalam situasi asing. Dan lebih ngeri dari itu, kita bakal jadi ‘orang asing di tanah dan dalam rumah kebangsaan kita sendiri.’ Sesungguhnya, kita pasti tak ingin menjadi orang asing seperti itu.

Akhirnya…

Sebab itulah, biarlah kita berpatok sederhana pada keyakinan, “Ergo iam non sumus hospites, et advenae.” Iya, ‘kita kini, bukan lagi orang asing dan pendatang.’ Dan karenanya, kita terpanggil untuk mendengar, membaca dan mengetahui serta bersikap secara benar tentang segala apa yang terjadi dan tengah bergolak hari-hari ini. Semuanya demi sebuah masa depan bersama nan cerah. Tanpa penyesalan.

Benarlah si Jackie Joyner-Kersee, atlet Amerika itu. Tulisnya, “Lebih baik melihat ke depan dan mempersiapkan diri daripada (nantinya) melihat ke belakang dan menyesal.”

Bukankah demikian?

Verbo Dei Amorem Spiranti

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN