Kita tenggelam dalam “persepsi kita tentang realitas agar konsisten dengan apa yang kini yakini.” Di sini, perangkap bias asimilasi sungguh menjerat akal sehat dan nurani. Kita paksakan segala tesis dan diktum pribadi sebagai keyakinan.
Sebegitu mudah dan murah kah sebuah sumpah?
Dan, lihainya lagi, kita pagari keyakinan itu dengan keberanian ‘sumpah walau berkonsekwensi maut dan neraka jahanam sekali pun.’ Tak cukup di situ. Dan karena ‘sikap heroisme sepihak itu’ maka tesis itu harus dipastikan sebagai kebenaran!
Tetapi, aura suram kehidupan dalam kebhinekaan tak hanya berhenti di situ. Ada hal yang lebih pelik yang menggoroti sendi-sendi kehidupan bersama. Kita lagi ditorpedo gerakan pengasingan. Nampaknya alineasi kebangsaan telah jadi mega proyek. Dirakit sekian sistemik demi sebuah orientasi kebangsaan yang ‘murni sepihak dan hanya kita.’ Sebab, ‘yang bukan kita selalu disorot dalam konteks relasi adversarius opositoris yang mesti dikebiri, dienyahkan dan harus dipastikan tak berkutik! Kalah telak dan musnah.
Sebenarnya, kita lagi gelisah oleh alam asing di dalam diri sendiri. Kita pun lagi tak karuan hati dengan segala gerak-gerik sesama. Kita lagi ekstra waspada dalam alam lingkungan, dengan situasi dan kondisi yang kita tatap bulat-bulat dengan sorot mata tajam mengandung curiga: ‘semuanya pasti punya manuver dengan segala intrik yang membahayakan.’
Perang narasi dalam desingan peluru kata
Kata Bang Ebiet G Ade, “Di bumi yang berputar, pasti ada gejolak. Ikuti saja iramanya. Isi dengan rasa…” Proyek gigantik untuk sebuah rasa saling mengasingkan mesti dirubuhkan. Mesti dibiarkan mangkrak selamanya. Dan pada gilirannya citra kebangsaan yang berwibawa mesti dibangun pantang mundur dan penuh perjuangan.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel




