Kita Bukan Lagi Orang Asing dan Pendatang

Agenda perjuangan kita

Di balik semuanya, sebenarnya hanya ada satu pertanyaan: Apa yang sungguh diperjuangkan? Yang diperjuangkan itu telah dibakukan dalam forma. Telah mengental dan mengedap dalam rongga otak dan hati. Dan semuanya berimbas pada mental, cara, dan isi berpikir. Bermuara pula pada reaksi bertindak.

Kita memang lagi berbentur dan dikepung dalam situasi tak pasti. Namun, anehnya semuanya itu telah pastikan satu ketidakpastian suasana hati. Tak ada yang mesti digenggam demi keteduhan jiwa. Tak ada pijakan untuk berdiri di atas rasa damai.

Hidup, akhir-akhir ini, kata orang, hanya berbasis pada tafsiran demi tafsiran. Disusun dalam imaginasi demi imaginasi. Dikaroseri dalam curiga demi curiga. Kita, akhirnya, hanya menyusun strategi demi stragegi ‘bukan pertama-tama agar kita nyaman dalam hidup.’ Tidak! Tetapi terlebih untuk mengenyahkan dan mengalahkan apa pun yang telah dipaket dalam curiga!

Kebenaran yang ditikungi

Di titik ini, kita pasti teringat Jean Piaget. Psikolog Swiss itu sepertinya ‘sudah menegur’ kita untuk tak terlalu lancang dalam lalu lintas informasi tanpa data! Serasa hidup ini telah melebar dari apa yang disebutnya sebagai akomodasi dan asimilasi. Sepantasnya, skema diri kita dan seluruh gerak hidup yang terpaket dalam keyakinan, disepadankan dengan informasi baru dan benar.

Mari kita kembali lagi pada G. Mohamad. Katanya, sudah pada nyata-nyata, “Kebenaran telah turun takhta.” Orang lebih peduli pada konsumsi informasi yang ‘menguntungkan.’ Memaksa tafsiran sendiri sebagai kebenaran (mutlak). Kebenaran sebagai sungguh benar hendak dibuat jadi ‘bebek lumpuh.’

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN