Keributan di Tangsel dan Isu SARA di Media yang Meresahkan Warga

Warga digital Indonesia dinilai belum berpengalaman dalam memberikan informasi di media sosial. Di luar negeri, warganet yang ingin memberikan informasi harus melalui tahapan seperti verifikasi dan wawancara.

Media sosial dijadikan alat propaganda yang bisa mengarahkan pada isu atau narasi yang bisa memberikan bias. Warganet di media sosial menjadi kebenaran dalam menilai dan menyikapi suatu peristiwa atau fenomena. Kebenaran yang belum tentu mereka rasakan langsung atau berbasis keilmuan dan kajian.

Buruknya media sosial, kata Arga, ialah karakternya sebagai automatic generated content. Jadi, wacana tertentu yang disebarkan atau masuk ke ranah digital otomatis cepat menyebar seperti virus. Untuk menghentikan itu, akan sangat sulit.

Salah satu caranya ialah dengan konter narasi melalui kerja jurnalistik media massa yang berlandaskan etika. Kerja jurnalistik bisa menjadi cara atau melawan automatic generated content yang informasinya belum sepenuhnya benar dan baik.

Sayangnya, masalah yang dihadapi media massa saat ini adalah disrupsi media yang akhirnya menuntut mereka untuk bekerja seperti media sosial yang cepat. Maka, tak heran media sosial justru menjadi rujukan informasi bagi media massa. Dari media massa satu ke media massa lainnya akhirnya berlomba untuk memproduksi narasi serupa secara cepat.

Padahal, untuk membuat produk jurnalistik yang baik dan bagus, tentu tidak bisa asal cepat. Sayangnya itu yang dilakukan oleh media massa saat ini. Massa depan pers justru ada di tangan mereka sendiri. Narasi lebih dalam yang tidak mengutamakan kecepatan masih sangat dibutuhkan.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses