
Harapan serupa juga disampaikan oleh mahasiswa penghuni indekos di Kampung Poncol. Seperti yang diutarakan Farhan, pengeroyokan jangan sampai terulang karena tidak hanya menimbulkan kegaduhan, tetapi juga bisa mengancam keselamatan. Para pemuda kampung dan mahasiswa mengedepankan dialog alih-alih adu otot.
Sementara itu, Frederikus Legianto (25), salah satu penghuni indekos, mengatakan, malam itu mereka berkumpul sebanyak 15 orang untuk berdoa Rosario rutin dalam rangka Bulan Maria. Saat doa hampir selesai, ada pengurus RT datang untuk memberi tahu agar segera bubar.
Salah satu warga juga minta agar mengakhiri kegiatan doa. Namun, ketegangan mulai terjadi karena salah satu kelompok pemuda di indekos dan pemuda setempat justru saling berdebat dan berujung pertengkaran.
”Kami juga tak ingin ada peristiwa ini. Kalau berdoa, kami memang rutin. Jangan sampai ada rusuh karena jadi enggak enak,” katanya.
Salah satu penghuni indekos lainnya yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan, kejadian Minggu malam tak perlu terjadi jika kedua pihak bisa berbicara baik.
”Semoga ke depan baik-baik. Kita belajar di sini. Jadi suasana bisa baik,” ucapnya.

Keragaman kota
Sosiolog Universitas Negeri Jakarta, Rakhmat Hidayat, mengatakan, kota di Jabodetabek sebagai ruang sosial yang besar dengan keragaman agama, etnis, dan ideologi. Keragaman kota itu menjadi dinamis karena ada ketersinggungan atau interseksi etnis dan agama.
Tingginya interseksi keragaman dan dinamisnya kehidupan warga kota itu jika tidak dikelola bisa memunculkan ketegangan dan sangat rentan terjadi gesekan. Kasus di Tangerang Selatan hanya salah satu contoh. Di kota lainnya di Indonesia juga beberapa kali terjadi gesekan sosial. Buruknya komunikasi sosial di lingkungan itu justru menyerempet ke masalah agama dan etnis.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel
Tinggalkan Balasan