”Gue pikir masalah selesai. Ternyata ada abang (warga setempat) baju merah bawa pisau. Gue teriak kenapa bawa pisau. Gue malah ditodong di perut, tapi berhasil gue tahan, tiba-tiba dari arah lain ada seseorang bawa pisau ngarahin ke kepala dan tiba-tiba kepala sudah bocor,” ujar Farhan.
Gesekan warga lokal dengan sekelompok pemuda itu ternyata direkam oleh seseorang dan diunggah di media sosial. Video itu pun cepat menyebar dan menjadi pembicaraan panas karena dinilai telah melanggar kebebasan beragama, intoleransi, hingga mengarah ke isu SARA.
Video itu pun menjadi sumber bagi media massa daring untuk dijadikan berita. Media massa berlomba-lomba menarasikan gesekan di Tangsel itu secara cepat.
Kabar di media sosial dan media massa daring yang beredar dengan cepat itu pun mengusik warga Kampung Poncol karena narasinya tidak sesuai fakta di lapangan. Warga pun takut dengan berkembangnya kabar berbau SARA itu menjadi bola panas.

Kedatangan sejumlah awak media ke lokasi untuk mengetahui penyebab awal terjadinya peristiwa gesekan di kampung itu sempat dipertanyakan oleh warga.
”Kenapa kalian wartawan menyebarkan kabar tidak baik dan tidak benar. Media-media kenapa memberitakan isu yang berbahaya. Berita di media itu tidak benar,” ujar salah satu warga yang tak ingin disebutkan namanya.
Mawan (45), warga setempat, juga merasa cemas dengan beredarnya kabar bahwa warga Kampung Poncol telah bertindak intoleransi hingga membacok salah satu mahasiswa yang sedang menjalankan ibadah di indekos.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel
Tinggalkan Balasan