Keributan di Tangsel dan Isu SARA di Media yang Meresahkan Warga

Peran RT/RW, karang taruna, dan komunitas-komunitas bisa menjadi kontrol bagi masyarakat atau pendatang.

”Beberapa kasus di Indonesia sebenarnya hanya masalah sosial, tetapi justru menyerempet etnis lalu ke agama. Gesekan ini sangat rentan terjadi karena tinggi keragaman di kota. Isu yang awalnya remeh-temeh merembet ke hal etnis dan agama. Artinya, kota-kota besar dengan keragamannya menjadi paradoks. Jika itu tidak dikelola dengan baik, menjadi hal kontraproduktif dan disintegrasi,” ujar Rakhmat.

Dari pengalaman-pengalaman peristiwa itu, asosiasi ketetanggaan di masyarakat perkotaan memiliki peran penting. Peran RT/RW, karang taruna, dan komunitas-komunitas bisa menjadi kontrol bagi masyarakat atau pendatang. Jika itu diaktifkan, bisa mengelola keragaman karena ada keterlibatan langsung antarkelompok masyarakat.

”Bagus seperti ada kerja bakti, lomba 17 Agustus, atau membuat kegiatan lainnya agar warga, pendatang, pekerja, mahasiswa bisa ikut terlibat sehingga gesekan-gesekan sosial bisa ditekan dan tidak merembet ke hal lainya,” ujarnya.

Tidak hanya komunikasi sosial secara langsung, kini komunikasi sosial juga dilakukan melalui media sosial.

Media sosial menjadi wadah warga untuk berkomunikasi dan menyebarkan informasi dengan cepat. Namun, akan sangat bahaya jika media sosial itu menjadi sumber informasi utama karena rentan disalahgunakan atau bisa memperkeruh situasi dan kondisi.

Krisis etika

Menurut Arga Pribadi Imawan, Head of Research Departement Peres Indonesia dan Adjunct Researcher Center for Digital Society Universitas Gadjah Mada, dari partisipasi aktif warga, media sosial memiliki sisi gelap.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses