Terhadap permintaan Elisa itu, Elia berkata: “Apa yang kamu minta itu sukar! Tetapi jika engkau dapat melihat aku terangkat dari padamu, akan terjadilah bagimu seperti yang kau minta. Jika tidak, ya tidak akan terjadi”. Ketika mereka berjalan terus sambil bercakap-cakap, tiba-tiba datanglah kereta berapi dengan kuda berapi memisahkan keduanya. Lalu naiklah Elia ke surga dalam angin badai. Melihat itu berteriaklah Elisa: “Bapaku! Bapaku!”. Kemudian Elia tidak kelihatan lagi oleh Elisa sampai ia pulang dengan membawa jubah Elia yang telah terjatuh. Dengan jubah yang sama itulah, ia membela Sungai Yordan. Sehingga ia menyeberang sebagaimana sebelumnya ketika ia masih bersama Elia bapanya (2Raj 2: 10-14).
Isi Permintaan Elisa
Perpisahan antara Elia dan Elisa dalam kisah suci di atas bukanlah suatu perpisahan alami atau non alami atau terpaksa, tetapi suatu perpisahan superalami atau perpisahan adikodrati. Disebut perpisahan superalami atau adikodrati, karena perpisahan itu berjalan dalam bingkai rencana dan kehendak Allah atau dalam tuntunan misi dan tugas perutusan dari Tuhan.
Hal yang menarik dalam perpisahan adikodrati ini adalah permintaan Elisa terhadap Elia. Elisa meminta adanya suatu warisan sebagai kenangan dari Elia untuk dirinya. Isi permintaan itu adalah warisan dua bagian dari roh Elia. Ketika ditanya apa yang dilakukan oleh Elia bagi Elisa anaknya, tanpa ragu-ragu Elisa berkata: “Semoga aku mewarisi dua bagian dari rohmu.”
Seperti jawaban Elia, permintaan Elisa ini amat ‘sukar’, karena isi permintaannya bukan benda-benda yang kelihatan seperti uang, materi atau harta bergerak dan tidak bergerak seperti aset tanah, tetapi ‘roh’ yang melekat dengan diri atau pribadi Elia. Roh itulah yang membuat Elia hidup dan bergerak. Namun roh itulah yang diminta oleh Elisa.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





