Berdasarkan sabda Tuhan ini, yang sesungguhnya najis, haram dan dilarang bukanlah jenis makanan dari hewan atau tumbuhan-tumbuhan, tetapi hati dan pikiran manusia. Saat manusia berpikir najis dan haram, jahat dan ‘kotor’, saat itulah ‘pikiran dan hati’ manusia menajiskan dan mengharamkan, melarang dan mempersalahkan semua jenis makhluk ciptaan Tuhan, bahkan juga manusia mahkota ciptaan Tuhan. Dengan mengharamkan hewan dan tumbuh-tumbuhan ciptaan Tuhan yang begitu baik adanya, orang yang berpikir negatif, najis dan kotor, haram dan jahat langsung atau tidak langsung ‘mengharamkan dan menajiskan Tuhan’ sendiri. Tidak heran kalau Tuhan Allah itu menjadi ‘jauh’ atau ‘dijauhkan’. Tuhan Allah hanya ‘dekat’ dan ‘didekatkan’ saat manusia ingin memenangkan ambisi pribadi atau kelompok tertentu, suatu ambisi akan superioritas kekuasaan yang egoistis dan separatis. Ambisi demikian cenderung menekan atau mengintimidasi orang lain atau kelompok lain yang berbeda haluan sikap dan pola pikir. Bagi orang demikian, perbedaan bukan kekayaan melainkan ancaman eksistensial bagi diri dan posisinya.
Sebab itu, hendaklah kita menjauhkan segala cara berpikir najis dan tidak najis. Atau cara merasa haram dan tidak haram, tetapi ‘halalkanlah’ atau benarkanlah semua jenis ciptaan Tuhan, baik hewan maupun tumbuh-tumbuhan. Allah sudah menyediakan dan menghadiahkan dengan gratis alam dunia dengan segala isinya untuk kesehatan pertumbuhan fisik dan psikis manusia selama hidup di dunia ini. Dalam rumusan pendek, janganlah kita pernah mengharamkan segala yang halal bagi hidup manusia!
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






