Dalam bingkai kebenaran ini, kegembiraan dan sukacita berasal dari Tuhan. “Bergembiralah karena Tuhan; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu” (Mzm 36: 4). Dalam arti yang sama, pemazmur juga berdoa kepada Tuhan: “Biarlah bergembira dan bersukacita karena Engkau semua orang yang mencari Engkau; biarlah mereka yang mencintai keselamatan dari pada-Mu tetap berkata: ‘Tuhan itu besar!” (Mzm 40: 17). Kegembiraan dan sukacita dari Tuhan menjadi ‘besar’, bila kita mencari Tuhan dan mencintai keselamatan dari Tuhan.
Dari kata-kata pemazmur ini, manusia bergembira dan bersukacita karena Tuhan. Tanpa Tuhan manusia tidak dapat bergembira dan bersukacita secara penuh. Kegembiraan dan sukacita yang tidak bersumber dan tidak berasal dari Tuhan sering bersifat lahiriah dan jasmani dalam bentuk keramaian, bunyi musik yang halus atau keras, menari dan menyanyi, tertawa terbahak-bahak, melucu dan melawak dan sebagainya. Namun kegembiraan dan sukacita dari Tuhan tidak selalu berwajah lahiriah seperti itu, tetapi lebih bersifat batin atau rohani.
Hanya pertanyaannya, siapa bisa mewartakan dan meneruskan kegembiraan dan sukacita dari Tuhan itu? Kita mesti siap untuk dikhususkan dan dipilih, siap untuk dilantik dan ditahbiskan sebagai imam dan religius serta siap pula untuk ditetapkan dan diutus guna mewartakan Injil.
Amat bersyukur dan berterima kasih bila ada anak-anak kita yang mau menerima panggilan khusus dari Tuhan untuk menjadi imam atau religius dan misionaris seperti Barnabas dan Saulus.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





