Oleh: Milikior Sobe, S.Fil.★
infopertama.com – Fenomena viral “Ini Baru Guru” yang ramai di ruang digital Indonesia sepanjang awal 2026 bukan sekadar tren sesaat. Ia mencerminkan kerinduan publik terhadap makna sejati profesi guru yang mulai tergerus zaman.
Di tengah dominasi TikTok, Instagram, dan X, publik tidak hanya mengonsumsi konten, tetapi juga menilai. Setiap aksi guru yang dianggap tulus, empatik, dan berdedikasi langsung mendapat legitimasi sosial: “ini baru guru.” Ungkapan ini bukan pujian biasa, melainkan standar moral yang diharapkan masyarakat.
Sebaliknya, istilah “guru baru” hanya merujuk pada status—siapa yang baru diangkat, siapa yang baru mulai mengajar. Ia netral, tanpa muatan nilai. Namun di balik perbedaan sederhana ini, tersimpan persoalan yang lebih dalam: pergeseran cara kita memaknai profesi guru itu sendiri.
Pemikiran Erich Fromm dalam To Have or To Be? membantu membaca situasi ini. Fromm membedakan dua cara hidup manusia: having (memiliki) dan being (menjadi). Dalam dunia pendidikan hari ini, keduanya sering bertabrakan.
Mode having tampak dalam orientasi pada capaian: sertifikasi, tunjangan, status ASN atau PPPK, hingga popularitas di media sosial. Guru diukur dari angka—berapa banyak pengikut, seberapa viral kontennya, atau seberapa lengkap administrasinya. Dalam kondisi ekstrem, profesi guru bahkan direduksi menjadi sekadar alat produksi konten.
Sebaliknya, mode being menempatkan guru sebagai pribadi yang hadir. Ia mengajar dengan empati, membimbing dengan kesabaran, dan mendidik dengan keteladanan. Guru tidak sekadar menyampaikan materi, tetapi membangun manusia. Di sinilah makna profesi itu sesungguhnya hidup.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





