Ini Baru Guru, Bukan Sekadar Guru Baru

Oplus_131072

Ironisnya, masyarakat justru lebih cepat mengapresiasi daripada sistem yang menaungi. Guru-guru yang viral karena ketulusan sering dipuji, tetapi banyak guru lain masih berjuang dengan kesejahteraan rendah, beban administrasi tinggi, dan minimnya pendampingan profesional. Ada jarak antara harapan moral publik dan dukungan struktural negara.

Dalam konteks ini, pemikiran Ki Hajar Dewantara menjadi sangat relevan. Filosofi “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani” bukan sekadar slogan pendidikan, tetapi panduan etis tentang bagaimana guru seharusnya hadir.

Guru adalah teladan di depan, penggerak di tengah, dan pendorong dari belakang. Pendidikan bukan proses mengontrol, melainkan memerdekakan. Bukan membentuk manusia sesuai kehendak sistem, tetapi membantu mereka tumbuh sesuai kodratnya.

Semangat ini sejalan dengan gagasan Merdeka Belajar. Namun, tanpa perubahan orientasi dari having ke being, kebijakan pendidikan hanya akan berhenti pada slogan. Guru tetap dibebani target, sementara makna profesinya terus tereduksi.

Fenomena “Ini Baru Guru” seharusnya dibaca sebagai kritik sosial sekaligus harapan. Ia menunjukkan bahwa masyarakat masih percaya pada nilai kemanusiaan dalam pendidikan. Namun kepercayaan ini tidak cukup dijawab dengan apresiasi sesaat di media sosial.

Diperlukan keberpihakan nyata: peningkatan kesejahteraan guru, pengurangan beban administratif, sistem mentoring yang berkelanjutan, serta perlindungan hukum yang adil. Tanpa itu, kita hanya merayakan segelintir guru inspiratif, tanpa membangun ekosistem yang melahirkan lebih banyak lagi.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel