Seorang “guru baru” tidak perlu menunggu lama untuk menjadi “ini baru guru.” Yang menentukan bukan masa kerja, melainkan cara ia hadir—apakah sebagai pemilik status, atau sebagai manusia yang sungguh mendidik.
Pada akhirnya, pendidikan bukan tentang apa yang dimiliki guru, tetapi tentang siapa yang ia menjadi. Di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar angka dan pengakuan, pendidikan Indonesia dihadapkan pada pilihan mendasar: terus berkutat pada “memiliki”, atau berani kembali pada “menjadi”.
Jika kita memilih yang kedua, maka harapan itu masih ada—dan guru tidak lagi sekadar profesi, melainkan panggilan yang memanusiakan.
★Pemerhati Pendidikan
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





