- Sila pertama mengingatkan kita bahwa ada Tuhan Yang Maha Melihat, bahkan ketika tidak ada satu pun penyidik atau kamera pengintai yang mengawasi.
- Sila kedua mengingatkan bahwa manusia adalah subjek bermartabat—bukan sekadar data mentah, bukan nomor telepon, dan bukan pula bahan “gorengan” politik.
- Sila keempat mengajarkan bahwa persoalan bangsa diselesaikan melalui musyawarah yang beradab, bukan melalui intip-mengintip secara diam-diam.
- Sila kelima menegaskan bahwa hukum berlaku adil untuk semua orang, bukan tumpul ke atas dan tajam ke bawah.
Oleh karena itu, tuntutan publik kepada negara dalam kasus ini harus dirumuskan secara jernih dan proporsional:
- Transparansi yang Akuntabel: Tidak perlu membuka isi percakapan privat ke ruang publik yang melanggar privasi, tetapi negara wajib membuka alur penegakan hukum, motif, serta keterlibatan pihak-pihak terkait sejauh tidak mengganggu proses penyidikan.
- Konsistensi Berkeadilan: Jika ada aktor intelektual di balik pelanggaran ini, ungkap secara terang benderang dengan bukti yang valid. Jika tidak ada, sampaikan pula secara terbuka agar spekulasi liar tidak menjadi racun informasi.
- Keteladanan Nyata: Tunjukkan kepada publik bahwa siapa pun—tanpa pandang bulu—yang menyalahgunakan akses teknologi negara akan diproses secara transparan. Keteladanan penegakan hukum inilah yang akan membentuk karakter moral generasi muda, jauh melampaui jutaan kata ceramah moral.
Menjaga Marwah Negara Hukum
Skandal dugaan penyadapan ini pada akhirnya bukan sekadar perkara hukum tentang empat perwira tinggi Polri. Ini adalah ujian eksistensial: apakah kita masih memiliki keyakinan bahwa hukum dapat berdiri tegak, bahkan ketika pihak yang diduga melanggar adalah mereka yang pernah berada di lingkaran pusat kekuasaan?
Jika hukum yang memimpin proses ini, kita akan mendapatkan kebenaran dan kepastian. Namun, jika politik yang memegang kendali, kita hanya akan memanen kegaduhan yang sia-sia.
Dan di tengah badai kegaduhan itu, pihak yang paling merugi bukanlah faksi politik yang menang atau kalah dalam perebutan pengaruh. Yang paling dirugikan adalah kita semua—warga negara yang mendambakan kebenaran, serta generasi muda yang sedang belajar memahami apa arti sesungguhnya dari menjadi warga negara yang bermartabat.
★Dosen dan Budayawan, berdomisili di Ruteng, Flores
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











