Ancaman Nyata bagi Watak Generasi Muda
Ada bahaya yang jauh lebih mendalam ketimbang sekadar riuhnya panggung politik, yakni degradasi etika digital di kalangan generasi muda.
Generasi hari ini tidak lagi belajar etika kewargaan dari ruang-ruang kelas atau buku teks formal. Mereka belajar dari apa yang mereka saksikan di layar gawai setiap hari. Ketika mereka melihat bahwa perilaku mengintip privasi, membocorkan percakapan privat, dan mempermalukan sesama lewat sebaran informasi digital dapat dilakukan tanpa konsekuensi hukum yang tegas, mereka menyerap satu pelajaran yang sangat destruktif: bahwa yang utama di dunia ini bukan lagi benar atau salah, melainkan punya akses atau tidak, serta ketahuan atau tidak.
Sebagai catatan kritis, tulisan ini tentu tidak sedang menyamakan bobot hukum antara perundungan siber (cyberbullying) di ruang privat remaja dengan kejahatan penyadapan tingkat tinggi oleh aparat penegak hukum. Bobot hukumnya tentu terpaut sangat jauh.
Namun, yang disamakan adalah struktur etisnya: mengambil dan merampas informasi milik orang lain secara melawan hukum demi tujuan mengendalikan situasi. Bedanya, yang satu mengendalikan orang lain lewat rasa malu, sementara yang lain lewat rasa takut.
Jika pola penyalahgunaan akses ini dibiarkan tanpa penegakan hukum dan etika yang tegas, maka watak opurtunistik di ruang digital akan tumbuh subur. Logika anak muda di akar rumput akan menjadi sangat sederhana: “Kalau pejabat di atas sana saja boleh mengintip privasi orang lain, mengapa kami tidak boleh?”
Pancasila sebagai Kompas Etika
Di sinilah nilai-nilai Pancasila harus ditarik kembali dari sekadar hafalan seremonial menjadi kompas etika yang hidup.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











