Mungkinkah ada kesempatan diam barang sejenak? Demi menengadah tatapi langit? Sekadar kumpulkan kekuatan, iya energi positif itu untuk kemudian kembali kepada diri sendiri? Ada yang telah disia-siakan dari diri sendiri di hari-hari silam itu.
Apa yang telah kita ‘kumpulkan sedikit demi sedikit, kini semuanya terkesan hilang lenyap. Seperti tak tersisa lagi.’ Dan kini, apakah yang dapat kita banggakan? Sekedar kejayaan masa silam yang perlahan jadi puing tergerus dalam waktu? Diri kerap diadili dalam dua kata penuh sesal, “Tahu begitu…..”

Sebuah titik balik penuh harapan
Tetapi, haruskah kita mesti tak tersisa sama sekali? Kata-kata bertuah ingatkan, “Salah satu respon yang kreatif terhadap kehilangan adalah tetap berharap, bahkan pada saat kita mengalami kehilangan dan kesulitan.” Segelap apapun yang memblokir di hadapan sana, selalu terdapat horison harapan yang mesti tersingkapkan.

Tentu benarlah Henri Nouwen, “Yang tidak punya harapan akan masa depan tidak akan dapat hidup secara kreatif di masa kini.” Kisah ziarah hidup setiap kita belumlah berakhir. Kita adalah insan sejarawi yang masih saja terbuka pada pada kisah-kisah kehidupan dalam berbagai kemungkinan tak terbatas. Sebab itulah, “Aku tidak pernah menjadi orang istimewa, yang punya kisah keseluruhan dan lengkap tentang siapakah aku ini.”
Setiap kita tetaplah ‘berdebu dan rentan.’ Benarlah, jika sekiranya kita tak berani hadapi kerentanan penuh debu, kita mudah terperangkap dalam penjara ‘tipu diri sendiri yang paling keji.’ Kita sering tergoda untuk bersibuk kata, seperti tak pernah puas dan terus saja berselancar tentang ‘kerentanan dan debu tanah punya sesama’ sambil berilusi bahwa seolah-olah ‘kitalah yang istimewa dan terbentuk seluruhnya dari logam mulia surgawi.’

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






