Tatanan sosiologis kita sedang diuji secara mendasar di sini.
Kita kerap menganggap membakar lahan hanyalah urusan teknis: buka lahan, tanam sawit, selesai. Padahal, yang ikut terbakar di sana adalah jaringan sosial dan ekologis yang paling halus. Ketika hutan terbakar, hal pertama yang lenyap bukanlah sekadar kayu, melainkan embun pagi. Ketika embun mengering, mata air pun ikut sirna. Ketika mata air hilang, para perempuan harus berjalan jauh lebih jauh hanya untuk menimba air. Dan ketika perempuan harus berjalan jauh, anak-anak kehilangan waktu pengasuhan. Satu percikan api kecil sanggup memutus rantai panjang kehidupan.
Kita juga sering mengira polusi hanyalah soal asap tebal yang kasat mata. Padahal, polusi yang paling berbahaya justru terletak pada cara berpikir kita sendiri yang terfragmentasi—terpisah-pisah dan egois.
Di titik inilah, Pancasila sebagai ideologi terbuka menemukan relevansinya yang paling nyata. Bukan sebagai teks hafalan pada upacara Senin pagi, melainkan sebagai pedoman hidup yang bernapas.
Pancasila tidak pernah mengajarkan lima sila yang berdiri sendiri-sendiri. Ia adalah lima jari dalam satu telapak tangan: jika satu jari terluka, seluruh telapak ikut ngilu. Tidak mungkin ada Ketuhanan tanpa merawat ciptaan-Nya. Tidak mungkin ada Kemanusiaan jika kita membiarkan tetangga satu nusa tersengal-sengal mencari udara segar. Tidak mungkin ada Persatuan jika udara bersih menjadi barang mewah yang hanya mampu dibeli oleh mereka yang dapat memesan penjernih udara di mal-mal Jakarta. Dan sungguh tidak mungkin ada Keadilan Sosial jika warisan utama kita bagi anak cucu hanyalah tanah yang perlahan berubah menjadi gurun gersang.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel









