Emosi Kolektif Minus Nalar: Belajar dari Kasus Lebak

Kasus Lebak
Menginjak Quran, 2 Pekerja Salon di Lebak Tersangka Penistaan Agama. (Istimewa)

Dalam jangka panjang, pola ini tidak hanya berdampak pada individu yang terlibat, tetapi juga pada kualitas ruang publik itu sendiri.

Refleksi: Antara Kepedulian dan Reaktivitas

Kita tentu tidak sedang mengatakan bahwa publik tidak boleh bereaksi. Respons terhadap isu sensitif adalah bagian dari kepedulian sosial.

Namun, yang perlu dibedakan adalah: Apakah kita bereaksi dengan kesadaran, atau sekadar mengikuti arus emosi?

Masyarakat yang matang bukanlah masyarakat yang sunyi dari emosi, tetapi yang mampu: memberi jeda sebelum bereaksi, memeriksa sebelum menyimpulkan, dan memahami sebelum menghakimi.

Tanpa itu, ruang publik akan terus diwarnai oleh siklus yang sama: viral, marah, lalu lupa tanpa pernah benar-benar belajar.

Penutup: Belajar Menahan di Tengah Kecepatan

Kasus Lebak bukan sekadar peristiwa viral. Ia adalah cermin. Cermin tentang bagaimana kita: memproses informasi, merespons perbedaan dan mengelola emosi sebagai bagian dari kehidupan sosial.

Di tengah arus informasi yang semakin cepat, kemampuan paling penting bukan lagi sekadar mengetahui, tetapi menahan diri untuk tidak langsung bereaksi. Karena dalam banyak kasus, yang kita hadapi bukan kekurangan informasi—melainkan kelebihan emosi yang tidak terkelola.

★Dosen Fakultas Psikologi UST Yogyakarta Owner Harmonia Psychocare

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel