Lebih jauh, algoritma digital bekerja bukan untuk menenangkan, tetapi untuk mempertahankan perhatian. Dan dalam banyak kasus, kemarahan adalah emosi yang paling efektif untuk itu.
Kemarahan yang Menular, Nalar yang Tertinggal
Yang terjadi selanjutnya hampir selalu sama: emosi menyebar lebih cepat daripada klarifikasi. Melalui mekanisme emotional contagion, satu ekspresi kemarahan dapat memicu ratusan bahkan ribuan reaksi serupa. Orang merasa harus marah—bukan karena memahami sepenuhnya, tetapi karena melihat orang lain juga marah. Di titik ini, kemarahan bukan lagi respons individual, melainkan norma sosial.
Akibatnya: kompleksitas hilang, konteks terabaikan dan ruang diskusi menyempit. Akhirnya yang tersisa hanyalah dua posisi ekstrem: setuju atau menentang.
Tekanan Mayoritas dan Ilusi Kebenaran
Dalam situasi seperti ini, suara mayoritas sering kali terasa seperti kebenaran itu sendiri. Padahal, dalam psikologi sosial, kita mengenal social conformity—kecenderungan individu untuk mengikuti arus kelompok, bahkan ketika belum sepenuhnya memahami atau menyetujui.
Masalah muncul ketika: opini dominan dianggap sebagai kebenaran mutlak, perbedaan pandangan dipersepsikan sebagai penyimpangan dan tekanan sosial menggantikan proses berpikir kritis. Di sinilah terbentuk apa yang bisa disebut sebagai ilusi kebenaran kolektif: sesuatu terasa benar bukan karena telah diuji, tetapi karena diyakini bersama.
Ketika Reaksi Mendahului Proses
Kasus Lebak juga memperlihatkan kecenderungan yang lebih luas: publik sering kali bereaksi lebih cepat daripada sistem yang seharusnya bekerja. Tekanan opini dapat mendorong percepatan respons, tetapi di sisi lain juga berpotensi mengaburkan prinsip keadilan, menyederhanakan proses yang seharusnya objektif, dan menggeser fokus dari fakta ke tekanan sosial.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






