Damai dalam Keluarga

Maka janganlah di dalam keluarga ada anggotanya yang ganas seperti serigala. Keluarga tidak akan rukun dan damai bila ada anggotanya yang galak atau garang, emosi dan marah-marah. Bila ada anggota keluarga yang galak, kita harus tampil seperti anak domba yang tenang, diam dan tidak berbicara. Itulah keunggulan anak domba: tenang, diam dan tidak membuka mulut di hadapan serigala yang galak dan garang, ganas dan menakutkan.

Kata Paus Fransiskus, sukacita dan kegembiraan, kerukunan dan kedamaian ‘tidak datang dari benda mati, tetapi datang dari kasih sayang Allah yang hadir dalam keluarga.’

Dalam keluarga boleh ada banyak harta, fasilitas, materi, tetapi itu semua adalah ‘benda mati’. Sukacita sejati dan damai yang benar tidak datang dari benda mati, tetapi dari relasi yang hangat dan komunikasi yang hidup antara anggota keluarga, antara orang tua dan anak-anak, antara ibu dan bapa, antara kakak dan adik, antara saudara dan saudari.

Relasi yang hangat dan komunikasi yang hidup ini tidak tergantikan dan tidak dapat diganti dengan benda mati seperti HP, Televisi, hobi apa saja. “Sedih melihat keluarga saat makan siang, masing-masing dengan ponselnya sendiri tidak berbicara satu sama lain, semua orang berbicara dengan ponselnya”, kata Paus Fransiskus. Maka demi terciptanya relasi yang hangat dan komunikasi yang hidup, Paus Fransiskus amat mendesak keluarga untuk meletakkan ponsel mereka di meja makan dan berbicara satu sama lain.

Selain itu, janganlah keluarga lupa menghadirkan Tuhan. Tuhan adalah pemilik keluarga. Maka mintalah kepada Tuhan pemilik tuaian, keluarga. Berdoalah kepada-Nya. Damai datang dari Tuhan dan dibawa oleh siapa saja. Hanya dengan berdoa keluarga dapat mengalami damai. Tetapi keluarga yang tidak berdoa dapat dipastikan amat sulit mengalami dan merasakan damai dalam keluarga.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel