Jadinya kita sendiri lah yang ‘membenarkan’ apa yang tak nyata itu. Narasi hiperbolik dan exagerated lantas deras mengalir belepotan, yang sepertinya, hendak tutup-tutupi semua yang tak selaras fakta atau out dari kenyataan. Kita jadinya ‘melahap dan menelan habis yang bukan jadi bagian kita.’ Hanya demi sebuah kepentingan sesaat.
Di zaman penuh pertarungan demi apa yang diimpikan, nyata atau tak nyata, sebenarnya atau jelas-jelas tak benar semuanya bisa dirakit dan diracik demi kepentingan. Entah kepentingan dalam skala besar, maupun demi satu pencitraan pribadi yang terindikasi kaleng-kaleng atau murahan.
Di Buku Suci terbaca Kata-Kata Tuhan, “Jika Ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika Tidak, hendaklah kamu katakan. Tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat” (Mat 5:37). Ini tentu tak hanya menyasar sesuatu di luar diri kita berkenaan dengan ketepatan atau kebenaran. Ini tak hanya bisa bicara tentang orang lain. Tetapi ini pun menyasar diri setiap kita berkenaan dengan pergolakan seputar kepastian, ketepatan dan kebenaran itu.
Maka….
Setiap kita seyogianya butuhkan terowongan iluminatif yang menerangi ruang dan segala sudut batin. Sebuah terowongan rohaniah agar di saatnya lah ‘kita mesti telanjang dan benar-benar bersih. Suci lahir dan di dalam batin.’
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel




