Di Kisah Berikutnya…?
Sesama pun ternyata bisa salah dan keliru dalam dalam berpendapat serba positif tentang diri kita. Kita ‘dilambungkan dan dimuliakan’ dalam pecitraan diri yang ‘sengit mati punya.’ Di mana-mana dan dalam serba kesempatan nama kita ditenarkan. Bergaung indah tanpa jedah. Kita menjadi gema pujian di segala sudut.
Di titik sebaliknya, di renung hati terdalam, kita sedikit pun tak sanggup menepis kenyataan: Kita tidaklah selalu dan selamanya di bentangan litania kemuliaan yang didaraskan. Tidak! Sayangnya, kita sekian asyik dalam gema pujian melambung. Kita memilih sikap diam, sambil nikmati ‘keuntungan’ dari semua ‘indah tak nyata itu.’
Selanjutnya…?
Jadinya kita sendiri lah yang ‘membenarkan’ apa yang tak nyata itu. Narasi hiperbolik dan exagerated lantas deras mengalir belepotan, yang sepertinya, hendak tutup-tutupi semua yang tak selaras fakta atau out dari kenyataan. Kita jadinya ‘melahap dan menelan habis yang bukan jadi bagian kita.’ Hanya demi sebuah kepentingan sesaat.
Di zaman penuh pertarungan demi apa yang diimpikan, nyata atau tak nyata, sebenarnya atau jelas-jelas tak benar semuanya bisa dirakit dan diracik demi kepentingan. Entah kepentingan dalam skala besar, maupun demi satu pencitraan pribadi yang terindikasi kaleng-kaleng atau murahan.
Di Buku Suci terbaca Kata-Kata Tuhan, “Jika Ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika Tidak, hendaklah kamu katakan. Tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat” (Mat 5:37). Ini tentu tak hanya menyasar sesuatu di luar diri kita berkenaan dengan ketepatan atau kebenaran. Ini tak hanya bisa bicara tentang orang lain. Tetapi ini pun menyasar diri setiap kita berkenaan dengan pergolakan seputar kepastian, ketepatan dan kebenaran itu.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





