(sekadar satu perenungan)
“Jadi, jika kita berbohong kepada pemerintah, itu kejahatan. Jika mereka berbohong kepada kita, itu politik”
(Bill Muray)
P. Kons Beo, SVD
Bukan tak terduga
Yang terjadi akhir-akhir ini bukanlah dinamika politik yang tak terduga. Elastisitas politik bukanlah barang baru, apalagi harus disikapi sedemikian heran. Tidak kah apapun yang dibungkus rapih serta sekuatnya, dalam bingkai politik, mudah tersobek? Tak ada yang pasti dan wajib seharusnya.
Jabat tangan dan rangkulan tak selamanya bakal senafas. Kata-kata yang terangkai indah tak selamanya kisahkan harmoni yang akan teralami. Pada ekosistem politik itu ‘senyum dan tawa sekedar saja. Sebagai pelengkap sempurnanya sandiwara.’ Berawal dari manisnya kata-kata berbumbu, semuanya bisa berujung sepahit empedu. Atau bahkan bisa nihil rasa, sedikitpun tak tersisa.
Sebab itulah, misalnya, wajah suram kehilangan sinar tak berbinar Pak SBY sejak ‘ditinggalkan’ Anis Baswedan, dalam kisi-kisi politik, sulitlah dipahami. Tak perlulah sekian lamentatif sebenarnya. Itu bukanlah petir di siang bolong. Tidak kah dunia politik dan politisi itu mesti lentur dan gesit dalam sepak terjangnya?
Bisa jadi SBY dan juga si putra AHY telah terbiasa dengan habitat militer. Di alam relasi komandan dan anak buah ‘siap kerjakan!’ itu memang ada kepastian dan kepatuhan piramidal yang tak boleh berbelit-belit. Namun, lain ceritanya di alam politik.
Kini SBY dan Keluarga Besar Partai Demokrat mesti peras otak. Ke manakah arah perahu demi dermaga politik yang jadi tempat labuh? Ke sana ke mari ingin merapat demi pelukan koalisi tertentu bukanlah perkara gampangan. Itu baru ‘kisah miris’ yang sudah mendera lingkaran Partai Demokrat.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel




