Ketika putih jadi hitam dan kelam jadi menderang
Dalam pada itu, segala silam yang dianggap suram, maksiat, keji, bahkan berdarah, semakin dipertebal alur kisahnya yang miris dalam tafsiran dan ‘novum yang lebih memberatkan.’ Maka, karena itulah kontra argumen pun dibangun. Klarifikasi diperjuangkan. Politisi bertarung untuk yakinkan publik bahwa rekam jejaknya telah ‘biaskan cahaya purnama dan bintang gemintang dan bukannya alam gulita di malam hari.’
Tetapi, toh akhirnya segala tafsir ini itu mesti sejenak terhenti. Semuanya mesti disegegel dalam waktu. Dan tentu di babak berikutnya, kembali tafsiran, analisis, opini serta segala kasak-kusuk reaksi: pro ataupun kontra bakal membuntuti.
Akhirnya…..
Bukan kah kita semua bakal berpesta ria dalam pertarungan demokratis? Kemenangan ‘milik di sini’ bakal jadi ‘pemicu gelombang barisan sakit hati di sana.’ Entah seperti apa, siapa dan bagaimana? Bagaimanapun, demi Indonesia jaya membaca tanda-tanda zaman harus menjadi kemestian. Dan tak pernah boleh terpeleset di situ.
Verbo Dei Amorem Spiranti
Collegio San Pietro – Roma
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel




