Injil dan Kisah hidup Yesus adalah narasi Kasih Allah yang menyelamatkan. Dan kesempurnaan Kasih Allah yang menyelamatkan itu termahkotai dalam misteri Paska, penderitaan, wafat dan kebangkitan Yesus. Meneropong Allah sebagai sumber Kasih dan Keselamatan dalam kisah Salib, tentu tak mungkin dipisahkan dari berbagai episode kokohnya Kasih Allah dalam berbagai kisah suram hidup bangsa manusia.
Ketidaktaatan di taman Eden, berbagai kisah kedurhakaan Israel, dan berbagai ragam tindak pencemaran janji Israel akan Tuhan tetaplah dimenangkan oleh daya Kasih Tuhan yang tak pernah berkesudahan. Allah senantiasa hadir dalam ‘kisah-kisah Kasih nyata yang mencari dan menyelamatkan.’ Kasih Allah nyata pula dalam berbagai perjumpaan kembali antara manusia yang semula berseberangan karena dendam, kebencian, yang berpusat demi ‘kemegahan diri sendiri.’
Bukankah karena daya kasih itulah Yakub dan Esau dapat berjumpa kembali sebagai ‘sungguh saudara,’ yang tidak boleh terpisahkan (Kej 33:1-20)? Ingatlah kisah sedih Yusuf, yang dilepaskan ke tanah asing oleh saudara-saudaranya, toh akhirnya sanggup kembali ke dalam pelukan ayahnya Yakub dan semua saudaranya (Kej 45:1-5).
Mari menelisik serius kisah hidup kita dalam pertarungan antara daya Kasih yang menyelamatkan dan anti kasih yang sungguh mengasingkan. Alam hidup manusia, yang ditandai dengan kiprah daya saing tak sehat, perjuangan demi kepentingan sendiri dan sepihak, telah mencebloskan manusia dalam relasi kemanusiaan yang ambruk.
Keseharian manusia sungguh telah terpolusi oleh varian kekerasan. Kedengkian, irihati, fitnah, keserakahan, aneka tindak koruptif, ketidakadilan, tersebarnya hoaks, penyesatan hingga bentrok. Serta, aneka pertumpahan darah yang belum berakhir ini sungguh telah meretakkan dan menghancurkan potret kemanusiaan dan kehidupan penuh kasih.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel



