Lebih jauh Rikhard menerangkan upaya konkrit yang dilakukan oleh Yayasan Ayo Indonesia dalam program pemberdayaan sosial ekonomi kepada petani-petani di desa dampingannya. Yaitu, melatih petani tentang bisnis hortikultura secara organik, mengajarkan melek keuangan, aksi bersama untuk penanaman pohon, mengembangkan pertanian organik terpadu dengan pemeliharaan ternak, mengembangkan bisnis tempe, mempromosikan pengembangan pangan lokal khususnya Tanaman Pangan Sorgum, menyebarluaskan informasi tentang dampak perubahan iklim. Dan, mendorong mereka masuk menjadi anggota keperasi kredit, seperti KSP CU Florette dan Kopkardios agar bisa akses terhadap permodalan usaha melalui skema pinjaman dengan bunga rendah.
Ayo Indonesia juga, tambahnya, mempromosikan pengembangan pertanian organik karbon untuk mengatasi dampak perubahan iklim yang ditunjukkan dengan munculnya fenomena cuaca ekstrim, yaitu musim kering berdurasi panjang dan curah hujan tinggi pada musim hujan. Sejauh ini, dengan pendekatan pendampingan Lejong (bertamu/berdiskusi/analisis) yang sudah sedang dikembangkan oleh Yayasan Ayo Indonesia memperlihatkan perubahan dimana semakin bertambah jumlah petani yang fokus pada usaha hortikultura. Dan, ada juga di antara mereka berbisnis tempe dalam skala kecil tidak seperti yang dikembangkan oleh Arnoldianus Katung, salah warga desa Poco Lia.
Dalam pendampingannya, Yayasan Ayo Indonesia selalu mengajak dan mendorong petani untuk berkalkulasi dalam usaha, berorientasi profit (cari untung), membangun jaringan pemasaran dengan model kerjasama sebagai sahabat dengan para pedagang horti di Pasar, mengembangkan pola tanam yang mengacu kepada perilaku pasar dan bergabung menjadi anggota Koperasi Kredit, salah satunya adalah KSP CU Florette.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel









