Sukacita dan Penantian

Kita memang mesti bersukacita dalam penantian, sambil juga tak boleh lengah oleh tawaran ‘sukacita tanpa atau di luar kesadaran.’ Rasul Paulus ingatkan Jemaat di Tesalonika akan suasana hati penuh sukacita itu, “Saudara-saudara, bersukacitalah senantiasa!” (1Tesalonika 5:16).

Tetapi, tak sekedar ‘rasa bersukacita hampa,’ Rasul Paulus ingatkan pula ciri-ciri penantian yang sungguh berwarna sukacita benar, yang mesti dinyatakan:
-Tetaplah berdoa. Relasi yang hangat dengan Tuhan adalah ‘dasar sukacita yang benar.’
-Tetaplah bersyukur atas segala hal. Dalam segala situasi yang dihadapi, jiwa penuh syukur pun dapat menjadi alasan kuat untuk bersukacita.
-Tak padamkan Roh, kata Rasul Paulus;
-Dan dijauhkan selalu dari arah menuju kejahatan.

Dalam Masa Adventus yang bisa dirasa ‘menjemuhkan’ dan menyebabkan kita masuk dalam ‘sukacita yang palsu,’ kita bisa kehilangan orientasi demi mengalami kehadiran dan kedatangan Tuhan Penyelamat.

Alam Hari Minggu Gaudete sesungguhnya membebaskan kita dari ‘rasa sukacita yang sekadarnya dan sesaat.’ Kesiapan hati dan seluruh diri mesti menjadi tanda bahwa kita sungguh bergembira yang benar dalam menanti Tuhan.

Pada Malam Kelahiran Tuhan (Hari Raya natal) di situlah sukacita kita berpuncak. Sebab itulah, kita, sekali lagi, tak boleh kehilangan momentum puncak sukacita itu oleh daya pikat sukacita-sukacita palsu yang menjerat keinginan hati.

Teringat lagi akan keluhan warga kampung, “Jelang natal, kampung kami jadi ramai. Banyak orang muda kumpul-kumpul di seputar kandang natal kampung hingga larut. Ada nyanyi-nyanyi, minum-minum, canda tawa serta tak lupa ada pula acara ‘bakar-bakar.’ Sayangnya, jelang sukacita Natal yang sesungguhnya, kami warga mesti kehilangan ayam dan banyak binatang piaraan. Sungguh ini perayaan Natal yang mencemaskan oleh karena banyak keinginan untuk sukacita palsu. “

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel