Kini dan di sinilah bapak-bapak pengadil sepertinya ‘dipaksa masuk’ dalam arena spiritualitas keadilan, kebenaran, dan demi kebaikan bersama! Sebab itulah, Mahkamah Kontitusi mesti bertransformasi dari alam ‘keributan perang narasi’ menuju alam ‘kontemplatif penuh teduh demi sebuah hasil discernmen decisif yang bercitra.
Bagaimanapun, di hari-hari yang telah berlalu itu, tentu tak disepelekan suara lembut namun dahsyat. Saat Tanah Air mesti digemuruhkan dalam etika nilai yang mesti dijunjung. Siapapun yang menjunjung etika, ia tak akan pernah kehilangan keberanian dan spontanitas untuk bersuara.
Spontanitas yang gagah berani tak pernah berjuang sekali untuk merakit-rakit kata dan kalimat hanya agar tak terperangkap dalam kefatalan bicara yang minus isi dan nilai. Tidak! Semuanya mengalir dari dalam jiwa penuh merdeka.
Benarlah. Yang tertangkap hari-hari ini adalah kehilangan spontanitas dan apa adanya. Orang mesti rela jauh dari kejujuran dan kebenaran. Semuanya hanya demi kemenangan. Sebab di balik kemenangan itu telah dipajang litania kepentingan ini dan itu.
Untuk kisah pertarungan selanjutnya, tentu suasana bakal tak pernah berubah. Peralihan kepemimpinan dan kekuasaan di rana apapun selalu tak imun dengan segala iklim penuh kabur dan curangnya. Memang kemenangan sudah jadi harapan dan muara cita nan pasti.
Ada kah sebuah kemenangan demi kepemimpinan tanpa kecurangan? Tanpa strategi senyap dan gelap? Tanpa kampanye sirik pembunuhan karakter terhadap lawan? Dan, tanpa menabrak dan menggilas segala ketentuan yang menghadang?
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel



