Spontanitas yang Semakin Memudar

Siapapun pihak ingin diakui benar! Dengan itu, ada keyakinan untuk tiba pada sorak-sorai kemenangan yang berbasis hukum dengan finalisasi: tetap, mengikat dan akhirnya selesailah sudah. Iya, terlihat ada yang kentara sekali ingin tiba konklusi pengakuan. Sambil sekian simpelkan begitu saja segala dinamika atau proses yang telah. terjadi. Nyatanya tak sedemikian.

Kisah ini bakal terpatri sebagai momentum sejarah. Dari arung kisah historis selalu terdapat nilai yang dapat ditampih. Di situ, yang buruk mesti dibuang. Yang bernilai mesti dimaknai. Sebab yang terjadi hari ini akan jadi cerita valuable buat generasi masa mendatang. Iya, warisan buat anak cucu Ibu Pertiwi di kemudian nanti.

Memang semuanya bakal berakhir pasti. Semua pihak telah bertarung untuk berlari dan bersembunyi dalam payung hukum. Tetapi, adakah yang nyata dan jelas terlihat sekian hati-hati dan kabur? Sengketa pengadilan adalah arena ketegangan. Dalamnya telah terpasang standar normatif untuk siapapun.

Kata dan bicara sudah ditakar. Bahasa tubuh pun telah terbaca dan terukur. Penuh hati-hati bicara telah tertangkap. Sebenarnya, di situlah, orang telah kehilangan ungkapan diri ‘apa adanya.’ Iya, katakan saja bahwa yang penuh spontan sudah tergerus dan bahkan terkubur oleh segala strategi yang telah dirancang, diperankan serta telah jadi aksi.

Spontanitas yang hilang sebenarnya berbicara tentang kejujuran yang hilang pula. Ingin diakui menang, tetapi kita enggan berterus terang tentang jalan mana kah yang telah ditempuh sehingga menang. Di sisi lain, serangan tentang kecurangan pun bisa tercebur dalam tuduhan palsu penuh sesatnya. Itulah yang terjadi: Rasa menang namun enggan penuh cemas mengangkat piala kejujuran versus tuduhan curang yang sungguh sesak di dada untuk mendengus fakta negatifnya. Bagaimanapun upaya maksimal kedua kubu telah ditempuh…… Pertarungan telah dilewati.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel