Pada awal tahun 2026, sorgum telah memberikan kontribusi ekonomi sekitar Rp700.000 bagi keluarganya. Ia berharap hasil panen berikutnya dapat meningkat sehingga memberikan tambahan pendapatan yang lebih besar.
Sementara itu, jagung telah menyumbang sekitar Rp3.000.000 per tahun dari tiga musim tanam. Adapun ubi kayu belum dijual karena masih dimanfaatkan untuk konsumsi keluarga serta sebagai pakan ternak.
“Tahun ini saya berharap produksi sorgum bisa meningkat dibanding penanaman pertama,” kata Donatus.
Namun di balik harapan itu, ia masih menyimpan kekhawatiran. Menurutnya, musim hujan tahun ini tampak lebih panjang dibanding biasanya sehingga berpotensi memengaruhi pertumbuhan dan hasil panen sorgum.
Meski demikian, ia tetap berusaha melanjutkan budidaya sorgum dengan keyakinan bahwa tanaman tersebut masih memiliki peluang besar untuk mendukung pangan dan ekonomi keluarganya.
Dalam percakapan itu, Rikhardus Roden juga memberikan informasi mengenai peluang pasar ubi kayu di Pasar Ruteng. Menurutnya, permintaan ubi kayu cukup baik sehingga tanaman tersebut perlu dibudidayakan dengan standar budidaya yang tepat agar menghasilkan ukuran umbi yang besar dan memiliki nilai jual lebih tinggi.
Masukan tersebut diterima Donatus sebagai tambahan pengetahuan untuk mengembangkan usaha pertaniannya ke depan.
Donatus juga menegaskan bahwa ketiga tanaman pangan tersebut bukan hanya menjadi sumber pangan keluarga, tetapi juga mendukung usaha peternakan yang dijalankannya.
Limbah dari hasil penggilingan jagung dan sorgum dimanfaatkan kembali sebagai pakan ternak babi. Dengan cara itu, hampir tidak ada hasil pertanian yang terbuang. Pertanian pangan lokal dan peternakan saling mendukung dalam menjaga keberlangsungan ekonomi rumah tangga.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







