Bagi Donatus, usaha kecil yang dijalankan bersama istrinya menjadi bagian penting untuk mempertahankan kebutuhan rumah tangga di tengah kondisi ekonomi yang tidak selalu pasti.
Sementara itu, kebutuhan pangan keluarga sebagian besar diperoleh dari sawah miliknya sendiri. Dalam keterbatasan tersebut, Donatus mulai melihat peluang baru melalui pengembangan pangan lokal, khususnya sorgum.
Kini Donatus menjadi salah satu anggota aktif Asosiasi Pangan Lokal yang didirikan bersama Yayasan Ayo Indonesia.
Pertemuan di Aula KSP Mawar Moe hari itu membahas tentang tata kelola keuangan dan pengembangan produksi pangan lokal, khususnya sorgum, sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat desa.
Bagi Donatus, meningkatkan ekonomi keluarga bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan yang mendesak. Dua anaknya saat ini sedang menempuh pendidikan menengah di SMK Swakarsa dan SMAN 2 Ruteng. Karena itu, ia bersama istrinya terus berupaya mencari sumber penghasilan yang mampu menopang kebutuhan rumah tangga dan biaya pendidikan anak-anak mereka.
Menurut Donatus, kebutuhan uang tunai setiap bulan untuk membiayai pendidikan kedua anaknya berkisar antara Rp2 juta hingga Rp2,5 juta. Pengeluaran tersebut mencakup biaya kos, kebutuhan makan, uang sekolah, perlengkapan belajar, hingga kebutuhan pulsa.
Selain kebutuhan pendidikan, ia juga mengeluhkan tingginya pengeluaran untuk urusan adat dan sosial di kampung maupun dalam lingkup keluarga besar.
Menurutnya, berbagai kegiatan sosial seperti pesta sekolah, sambut baru, maupun pengumpulan dana untuk acara pernikahan sering kali membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kegiatan tersebut tidak hanya berlangsung di Ulu Ngali, tetapi juga di kampung lain yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarganya.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







