Dalam budaya masyarakat Manggarai, keterlibatan dalam urusan sosial dan adat menjadi bagian penting dari kehidupan bersama sehingga tetap harus dijalankan meskipun kondisi ekonomi keluarga terbatas.
Besarnya kebutuhan itu membuat dirinya dan sang istri harus terus berpikir keras mencari sumber pendapatan yang lebih stabil demi memastikan pendidikan anak-anak mereka tetap berjalan dengan baik sekaligus tetap mampu memenuhi tanggung jawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
Perkenalan Donatus dengan sorgum bermula dari relasi sosial yang terbangun baik antarpetani di kampungnya. Pengetahuan mengenai sorgum sebagai sumber pangan dan peluang ekonomi tidak ia peroleh langsung dari program pendampingan, melainkan dari seorang petani dampingan Simon di Ulu Ngali.
Donatus sendiri bukan anggota kelompok yang didampingi Simon. Namun pengalaman baik yang dibagikan petani lain mengenai manfaat sorgum membuat dirinya tertarik mencoba menanam tanaman tersebut.
Hal ini menunjukkan adanya hubungan sosial yang hidup di antara para petani, di mana pengalaman dan pengetahuan dibagikan dari satu petani kepada petani lainnya demi mendorong kehidupan yang lebih baik bersama.
Ketertarikannya semakin tumbuh setelah melihat langsung pertumbuhan tanaman sorgum dan mendengar pengalaman petani lain yang lebih dahulu membudidayakannya.
Di desanya, sorgum mulai dikonsumsi dengan berbagai cara, seperti dicampur bersama nasi maupun disangrai sebagai pangan alternatif.
Keinginan untuk memahami lebih dalam tentang budidaya sorgum mendorong Donatus mengambil inisiatif bertemu langsung dengan Simon, staf lapangan program pengembangan sorgum dari Yayasan Ayo Indonesia.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







