Saat itu penanaman dilakukan masih dalam musim kemarau sehingga Donatus khawatir mengalami kegagalan. Karena itu ia meminta Simon mempraktikkan langsung cara budidaya sorgum tanpa pemupukan agar sesuai dengan kondisi yang dimilikinya.
“Saya menyampaikan terima kasih kepada Pa Simon yang terus memberi motivasi saya dan petani lain menanam sorgum untuk pangan dan ekonomi. Pa Simon selalu hadir di kebun dan terus meyakinkan kami tentang prospek sorgum. Saya bersyukur bisa bertemu dengan Simon atas informasi dari petani lain di Ulu Ngali,” ungkap Donatus.
Usaha pertamanya ternyata membuahkan hasil. Dari lahan berukuran kecil, Donatus berhasil memanen sekitar 100 kilogram sorgum. Sebanyak 70 kilogram dijual untuk memperoleh uang tunai, sedangkan 30 kilogram lainnya dikonsumsi bersama keluarga dengan cara disangrai.
“Waktu panen pertama saya senang sekali. Ternyata sorgum bisa tumbuh baik walaupun waktu itu masih musim kemarau,” ujar Donatus.
Pengalaman tersebut memberinya keyakinan baru bahwa sorgum dapat menjadi salah satu jalan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka peluang ekonomi keluarga.
Dalam wawancara tersebut, Donatus menjelaskan bahwa selain sorgum dirinya juga menanam ubi kayu dan jagung sebagai sumber ekonomi keluarga.
Menurutnya, ketiga komoditas pangan itu memiliki prospek yang cukup baik karena permintaan pasar terus meningkat. Dengan perhitungan sederhana yang ia pahami, sorgum, jagung, dan ubi kayu dapat menjadi sumber pendapatan yang menjanjikan apabila dikelola secara serius.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







