Tentu, segala kisah dan ziarah batin di dalamnya tak selamanya ‘seiring, sejalan dan searah.’ Pada kenyataannya, dalam tampilan publik seseorang bisa saja terlihat kokoh, teguh, ‘keras dan prinsipil,’ dicintai khalayak penuh kagum. Namun di dalam temu dirinya sendiri yang amat personal dan sunyi, ia pada tahu diri akan ‘betapa rapuh dan penakutnya diri sendiri di dalam batin,’ serta terhadapnya para iblis masih tetap tertawa bersorak.
Tetapi, mari kembali ke suasana panas ‘ribut-ribut dan pertengkaran’ itu. Orang bisa keletihan dengan membuang energi batin dalam mencari kepuasan penuh sia-sia bahwa ‘aku selalu OK, prima, mantap, benar, dengan semua titik-titik positifnya.’ Dan di situlah, pencitraan diri jadi belepotan ke sana-ke mari. Tetapi juga betapa orang bisa, di sisi lain, mengap-ngap reaksioner. Terjebak dalam sentimen penuh kemarahan saat ‘yang kurang, negatif, lemah, tak hebat, suram dan gelapnya sisi diri dan kisah tengah dicahayai lembut.’ Sebab orang tak mau dibilang ‘lemah dan kurang.’
Tidak kah nyanyian diri dan kisah setiap orang bisa berkiprah ceriah dan juga berdesah penuh minor lamentatifnya? Satu alarm ingatkan, “Tak usahlah kau memburu pujian yang sia-sia untuk disimpan dalam kantong tua; tak usah pulalah kau harapkan nasi dari beras yang telah jadi bubur dalam sesal menikam rasa teramat dalam.” Karena toh, jika demikian benturan dengan sesama dan di dalam diri sendiri bakal tak terhindarkan. Lalu mesti bagaimana kah…?
Sedap dan tak harum, itulah kisah dari siapapun kita. Kita hanya perlu apa yang disebut integrasi dari cerita mayor dan minor itu. Henri Nouwen menulis begini, “Kita menjadi dewasa dengan mengintegrasikan sisi terang, dan sisi gelap cerita kita” (A letter of consolation).
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






