Sedap dan Tak Harum: Itulah Kisah Kita

Ini bisa berawal sederhana dari hal sepele. Katakan itu semisal ‘salah kata dan bicara.’ Juga karena rasa iri yang hanya sekedar rasa saja. Atau juga soal harta gono-gini warisan leluhur yang tak kena di hati. Itu tadi, ada arus rasa tak adil yang menyumbat kepala dan pikiran.

Tetapi juga, gesek-gesekan rasa dan sikap dalam kebersamaan kerap lahir dari rasa tak adil dalam koridor hak, kewajiban dan tanggungjawab. Yang rasa miliki hak, dengan segala caranya tetap memburu dan bahkan menuntut haknya. Tak peduli lagi pada etika situasi dan kondisi. Maka tergoyahlah jalur kekerabatan, persaudaraan dan rasa kekeluargaan.

Janganlah lupa pula untuk disadari. Ada lagi duta-duta kegelapan yang datang dan hadir untuk bikin tambah keruh suasana. Kerjanya hanya ‘melilitkan isu di leher demi kibaskan suasana panas.’ Maka, kebersamaan dan rasa kekeluargaan jadinya tercecer. Terpolusi ke sana ke mari. Sebab, di situ sungguh tak ada jalan keluar. Tak ada! Yang ada hanyalah ‘giring isu hitam dan tebalkan hati dengan bara api panas membakar.’

Bagaimana pun, inilah hidup! Kita ini ‘manusia yang bodoh dan rapuh.’ Yang berziarah di dunia yang indah serentak ada retak-retaknya. Setiap orang punya kisah dan cerita yang tercipta dari kekuatan dan kerapuhannya. Tak mungkin tidak! Sentilan si bijak, “Selalu ada dua cerita dalam kehidupan kita: yang semua orang tahu dan yang pribadi.” Dan lagi, lanjut si bijak, “Ada cerita yang diketahui keluarga dan teman-teman, ada juga cerita yang kita simpan dalam diri kita.”

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel