Cepat, Lugas dan Berimbang

Proyek Label Layak Anak, Kekerasan Terhadap Anak Menaik di Manggarai

Studi YMP, lanjut alumni ISI Yogyakarta ini, sudah memperlihatkan trend ini, dan sudah sering kami sampaikan ke publik. Tapi, responnya masih sporadis dan lebih cenderung aksinya tidak berbasis akar soal.”

Menurutnya, Kota ini (Manggarai) sudah tidak ramah buat anak, dan itu fakta. Lebih jauh ia menjelaskan, Indeks kebahagiaan kita buruk, stress sosial tinggi, pola asuh ada pada level buruk.

“Respon kita, mohon maaf masih selebratif dan kebanyakan taqline. Kita sibuk dengan label-label sekolah ramah anak, kota layak anak, paroki layak anak. Dan, ironisnya angka kekerasan pada anak menaik.” Pungkas mantan pengajar seminari Scalabrinian itu.

Ia mengatakan bahwa pendekatan kita masih pada tataran artifisial, tidak menyentuh soal dan cenderung elitis.

“Secara konseptual mungkin Pemerintah punya, tapi untuk mengeksekusi itu kita lemah. Kita gagal menerjemahkan soal, kalau mau dikatakan sebenarnya kita tidak tahu soal.” Pungkasnya.

Mutlak! Dampingan Psikologi terhadap Korban (anak)

Sementara itu, terkait kasus ini, Jefrin mengingatkan agar fokus pada korban dahulu.

Kekerasan Terhadap Anak
Jefrin Harianto, Konsultan dan Praktisi Psikologi pada Yayasan Mariamoe Peduli.

“Jangan sampai kita fokus mengurus pelaku dan mengabaikan korban. Ingat menghukum mati pelakunya pun tidak akan bisa menyembuhkan korban. Dampingan psikolog untuk anak menjadi keharusan. Reaksi dan treatment yang salah pada korban akan justru memperparah kondisi psikologisnya.” Lanjut Jefrin menambahkan.

“Pemerintah harus segera menyadari bahwa kondisi ini sudah darurat dan tidak bisa dengan langkah biasa biasa saja, harus dengan pendekatan ektraordinari. Bila perlu pemerintah membenntuk satgas khusus soal ini dan libatkan banyak pihak dan ahli yang mumpuni.” Tutupnya.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN