Proyek Label Layak Anak, Kekerasan Terhadap Anak Menaik di Manggarai

Ruteng, infopertama.com – Kasus kekerasan seksual terhadap anak di Manggarai kembali terjadi. Terbaru, menimpa Meldy (bukan nama sebenarnya) anak yang baru berusia 6 tahun di kecamatan Rahong Utara, kab. Manggarai.

Meldy (6) menjadi tempat pelampiasan nafsu tetangganya, HL (22). Akibat kebiadaban HL, korban Meldy mengalami demam, batuk dan panas.

Menurut ayah Meldy, awalnya mereka ingin melakukan pengobatan tradisional terhadap kondisi kesehatan anak mereka. Namun, saat membuka celana dalam (CD) Meldy, mereka melihat ada keluar darah pada bagian sensitif.

Atas kondisi itu, orang tua korban berupaya ‘tuk melakukan pemeriksaan medis ke RS Ben Mboy Ruteng. Hasil pemeriksaan medis, menurut petugas Rumah sakit, bahwa Meldy sudah disentuh laki-laki.

“…Di dalam rumah tinggal terduga pelaku dan korban. Lalu dia melakukan aksi bejatnya. Korban hendak berteriak namun mulut korban ditutup paksa oleh terduga pelaku. Setelah melakukan aksi tak senonoh itu, terduga pelaku mengancam korban untuk tidak boleh melaporkan kejadian ini pada orang tua korban.” Ungkap ibunya sesuai tutur korban, Meldy.

Praktisi Psikologi: Kita Sibuk Pada Urusan Label Layak Anak

Atas sederetan peristiwa kekerasan seksual di Manggarai memantik perhatian praktisi Psikologi dari lembaga Yayasan Marimoe Peduli (YMP), Jefrin haryanto.

Via gawainya, Jefrin mengaku tidak kaget atas peristiwa itu.

Demikian, Jefrin, ” Sejujurnya saya tidak kaget dengan kasus seperti ini, karena sudah kami perkirakan dan sudah sering kami ingatkan sejak tahun lalu.” sebut Jefrin keoada media ini pada Senin, (14/03/22) malam.

Studi YMP, lanjut alumni ISI Yogyakarta ini, sudah memperlihatkan trend ini, dan sudah sering kami sampaikan ke publik. Tapi, responnya masih sporadis dan lebih cenderung aksinya tidak berbasis akar soal.”

Menurutnya, Kota ini (Manggarai) sudah tidak ramah buat anak, dan itu fakta. Lebih jauh ia menjelaskan, Indeks kebahagiaan kita buruk, stress sosial tinggi, pola asuh ada pada level buruk.

“Respon kita, mohon maaf masih selebratif dan kebanyakan taqline. Kita sibuk dengan label-label sekolah ramah anak, kota layak anak, paroki layak anak. Dan, ironisnya angka kekerasan pada anak menaik.” Pungkas mantan pengajar seminari Scalabrinian itu.

Ia mengatakan bahwa pendekatan kita masih pada tataran artifisial, tidak menyentuh soal dan cenderung elitis.

“Secara konseptual mungkin Pemerintah punya, tapi untuk mengeksekusi itu kita lemah. Kita gagal menerjemahkan soal, kalau mau dikatakan sebenarnya kita tidak tahu soal.” Pungkasnya.

Mutlak! Dampingan Psikologi terhadap Korban (anak)

Sementara itu, terkait kasus ini, Jefrin mengingatkan agar fokus pada korban dahulu.

Kekerasan Terhadap Anak
Jefrin Harianto, Konsultan dan Praktisi Psikologi pada Yayasan Mariamoe Peduli.

“Jangan sampai kita fokus mengurus pelaku dan mengabaikan korban. Ingat menghukum mati pelakunya pun tidak akan bisa menyembuhkan korban. Dampingan psikolog untuk anak menjadi keharusan. Reaksi dan treatment yang salah pada korban akan justru memperparah kondisi psikologisnya.” Lanjut Jefrin menambahkan.

“Pemerintah harus segera menyadari bahwa kondisi ini sudah darurat dan tidak bisa dengan langkah biasa biasa saja, harus dengan pendekatan ektraordinari. Bila perlu pemerintah membenntuk satgas khusus soal ini dan libatkan banyak pihak dan ahli yang mumpuni.” Tutupnya.

Terry Janu

error: Sorry Bro, Anda Terekam CCTV