Sebagaimana Bapa bersatu dengan dengan Yesus, demikian juga Allah menghendaki dan memanggil manusia untuk erat bersatu dan bahkan menjadi satu tubuh dengan Kristus. Allah tidak menghendaki ‘perpecahan’, perpisahan dan perceraian. Untuk itu manusia mesti seia sekata dan sehati sepikir serta memiliki ‘damai sejahtera. Terutama sekali agar selama tinggal bersama, kita mesti hidup baik, bekerja baik dan berbuat baik. Dengan demikian bila kita mesti berpisah, kita sudah menanam jejak hidup yang berguna bagi orang lain.
2). Berpisah
Meskipun manusia mesti bersatu seia sekata dan sehati sepikir dalam hidup bersama, namun perpisahan atau perceraian tidak dapat dihindarkan dari hidup manusia. Ada-ada saja peristiwa atau kejadian yang membuat manusia harus mengalami perpisahan atau perceraian.
Manusia bisa berpisah karena masa tugas atau masa kerja sudah selesai atau sudah purna bakti. Manusia bisa berpisah karena keberadaannya pada suatu tempat hanya bersifat sementara. Atau, manusia tinggal dan bekerja hanya untuk sementara waktu saja pada suatu tempat atau wilayah tertentu. Manusia bisa berpisah atau bercerai karena tidak ada kecocokan untuk hidup bersama atau tinggal bersama. Kasus seperti ini sering terjadi dalam kehidupan rumah tangga. Pasangan suami istri merasa tidak cocok dan tidak akur lagi untuk hidup bersama. Maka mereka lalu berpisah atau bercerai sebagai suami istri.
Bila harus terjadi perpisahan, berpisahlah dengan baik dan bukan karena terpaksa. Dalam setiap perpisahan kita harus merujuk pada Yesus sendiri. Di luar kota dekat Betania, Yesus mengangkat tangan-Nya dan memberkati murid-murid-Nya. dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga. Mereka sujud menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita” (Luk 24: 50-52).
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






